Pendekatan Arsitektur Tropis Pada Bangunan SMAK Syuradikara Ende

Authors

  • Petrus Jhon Alfred Depa Dede Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Flores
  • Silvester Masias Siso Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Flores
  • Fabiola T.A. Kerong Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Flores

Abstract

Bangunan kolonial di Indonesia merupakan fenomena yang unik, percampuran budaya antara penjajah dan budaya Indonesia yang tidak terdapat ditempat lain serta disesuaikan dengan kondisi iklimnya yaitu iklim tropis lembab. Kota Ende pada masa lalu menjadi salah satu daerah tujuan para pedagang dan pelayar dari Jawa, Makassar, dan Ternate. Karena menjadi salah satu titik transit para pedagang maka sejarah keagamaan dan kepentingan-kepentingan Kolonialisme bermain di daerah-daerah pelabuhan di Kota Ende. Bangunan bernilai sejarah yang masih bertahan dan memiliki ciri arsitektur kolonial di Kota Ende, salah satunya adalah bangunan Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) Syuradikara, yang keberadaannya tanpa disadari beradaptasi dengan iklim tropis. Untuk mengetahui sejauh mana kondisi iklim tropis (pendekatan arsitektur tropis) dapat mempengaruhi desain bangunan SMAK Syuradikara di Kota Ende, maka penulis melakukan kajian. Kajian ini dilakukan dengan menggunakan  metode kualitatif deskriptif. Pendekatan terhadap iklim tropis yang dikaji meliputi orientasi bangunan, bukaan dan material yang digunakan. Metode kualitatif deskriptif digunakan untuk menguraikan elemen desain bangunan SMAK Syuradikara yang berkaitan erat dengan iklim tropis. Dalam melakukan kajian ini pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, survey, observasi dan studi literatur. Dari hasil kajian ditemukan bahwa orientasi bangunan secara keseluruhan menghadap dan memanjang kearah utara  dan selatan. Permukaan bangunan yang menghadap arah datang dan terbenam matahari hanya sedikit yang menerima panas matahari. Aliran angin di sekitar bangunan datang dari arah timur dan barat dan ruangan yang mendapatkan aliran angin yang baik adalah ruang kelas. Orientasi peletakan jendela lebih dominan menghadap ke arah utara dan selatan. Keberadaan teras disepanjang bangunan untuk mengantisipasi sinar matahari langsung yang mengenai dinding bangunan, serta hempasan dari air hujan. Material lantai dari keramik dan tegel yang belum dipoles dengan permukaan sedikit kasar sehingga menyerap panas, ruangan cenderung lebih dingin. Dinding bangunan terbuat dari susunan bata yang diplester, tebal dinding antara 30 sampai 40 centimeter, sehingga dapat mereduksi udara panas yang ada dalam ruangan.

Keywords:

arsitektur tropis, sekolah menengah atas katolik syuradikara, kota ende

References

Groat, L. & Wang, D, 2002. Architectural Research Methods. New York: John Wiley & Sons. Inc.

Hadinoto. 2010. Arsitektur dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. GrahaIlmu. Yogyakarta.

Krier, R. 2001 . Komposisi Arsitektur, Erlangga, Jakarta.

Lippsmeier, G. 1980. Bangunan Tropis (Edisi ke-2). Erlangga, Jakarta.

Gordon, Alex (1988), Simposium IAI : Change and Heritage in Indonesia Cities, Konstruksi, Jakarta.

Kumuru, Veronica A. (2015). Pengaruh Gaya Arsitektur Kolonial Belanda pada Bangunan Bersejarah di Kawasan Manado Kota Lama. Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2015.

Purwanto, L.M.F. (2004), Kenyamanan Termal pada Bangunan Kolonial Belanda di Semarang, Jurnal Dimensi Teknik Arsiteklur, Volume 32, Nomor 2, Desember.

Downloads

Published

2020-04-30

How to Cite

Dede, P. J. A. D., Siso, S. M. ., & Kerong, F. T. . (2020). Pendekatan Arsitektur Tropis Pada Bangunan SMAK Syuradikara Ende. TEKNOSIAR, 14(1), 10-19. Retrieved from http://e-journal.uniflor.ac.id/index.php/TEKNOSIAR/article/view/655

Issue

Section

Articles

Most read articles by the same author(s)