Penataan Kawasan Wisata Hutan Mangrove Dengan Pendekatan Arsitektur Vernakuler Di Nangadhero Kabupaten Nagekeo

Authors

  • Rizal Ilyas Universitas Flores, Ende, Indonesia
  • Dian Fitriawati Mochdar Universitas Flores, Ende, Indonesia
  • Fabiola T. A. Kerong Universitas Flores, Ende, Indonesia
  • Petrus Vincentius Parera Universitas Flores, Ende, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.37478/teknosiar.v20i1.8029

Abstract

Hutan mangrove yang terletak di kawasan Nangadhero, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, ini menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata. Namun, kurangnya penataan kawasan, keterbatasan infrastruktur, dan belum adanya identitas arsitektural yang mencerminkan budaya lokal menjadi tantangan utama. Penelitian ini bertujuan untuk merancang penataan kawasan wisata mangrove dengan pendekatan arsitektur vernacular, yang menyelaraskan budaya lokal, karakter lingkungan sekitar, serta prinsip keberlanjutan. Metode penelitan bersifat kualitatif dengan teknik pengumpulannya melalui survei lapangan, observasi kondisi eksisting, wawancara, serta dokumentasi visual. Data tambahan diperoleh dari studi pustaka mengenai arsitektur vernakular, konsep perancangan kawasan wisata alam, dan regulasi tata ruang daerah. Analisis ini berupa, analisa topografi, analisa aksebilitas, analisa sirkulasi, analisa view, analisa matahari, analisa angin, analisa kebisingan, analisa vegetasi, analisa parkir, analisa penzoningan, analisa pola penataan massa bangunan, analisa sistem utilitas. Untuk menggali potensi dan permasalahan yang ada, mengidentifikasi ciri khas arsitektur lokal, serta menentukan kebutuhan fasilitas wisata berbasis lingkungan. Rancangan akhir berupa konsep penataan kawasan wisata mangrove yang mengutamakan penerapan prinsip arsitektur vernacular menggunakan bahan bangunan alami, bentuk bangunan yang adaptif terhadap iklim lokal, serta pelibatan masyarakat dalam proses perancangan dan pengelolaan. Diharapkan rancangan ini dapat meningkatkan daya tarik wisata sekaligus menjaga kelestarian ekosistem dan memperkuat identitas budaya lokal.

 

Downloads

Download data is not yet available.

Keywords:

Kawasan Wisata Mangrove, Arsitektur Vernakuler

References

Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka Cipta.

Barry S. Onouye., & K. Kane. (2011). Statics and Strength of Materials for Architecture and Building Construction (4th ed.). Boston: Pearson.

Ching, F. D. K. , & E. J. (2012). Introduction to Architecture. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.

Daniel L. Schodek. (1999). Structures (4th ed.). Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.

Difa Irgiarinda. (2022). Pengembangan Wisata Mangrove Berdasarkan Persepsi Masyarakat Di Pulau Pahawang,.

Edward T. White. (1985). Site Analysis: Diagramming Information for Architectural Design. Tucson: Architectural Media Ltd.

Hutahaean. (2020). Pengembangan Fasilitas Rekreasi Berdasarkan Refrensi Pengunjung Danau Toba Di Parapat-Kabupaten Simalungun,= J. Akad. Pariwisata Medan, vol. 8, no. 1, pp. 36–48. 10.36983/japm.v8i1.52.

John Ormsbee Simonds., & S. B. W. (2006). Landscape Architecture: A Manual of Environmental Planning and Design (4th ed.). New York: McGraw-Hill.

Oliver, P. (2006). Built to Meet Needs: Cultural Issues in Vernacular Architecture. Oxford: Elsevier.

Pellokila, R., & Sagala, N. (2009). Strategi pengembangan ekowisata hutan mangrove di kawasan Pantai Oesapa. Tourism: Jurnal Pariwisata, 2(1), 47. https://doi.org/10.32511/tourism.v2i1.319

Philip L. Carpenter., W. T. D. , & L. F. O. (1975). Plants in the Landscape. San Francisco: W.H. Freeman and Company.

Putra. (2004). Kawasan ekowisata hutan mangrove di Desa Kuala Karang Kabupaten Kubu Raya. Jurnal Online Mahasiswa Arsitektur Universitas Tanjungpura, 2(2), 41–55.

R. Abdillah and B.Poerbantanoe. (2017). Fasilitas wisata konservasi mangrove wonorejo di surabaya,= J. eDIMENSI Arsit., vol. 5, no. 1, pp. 777–784,.

Rapoport, A. (1969). House Form and Culture. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.

Rinaldi, Rizal, Y., & Masrul, W. (2024). Perancangan kawasan mangrove untuk ecotourism di Pulau Rupat dengan pendekatan arsitektur ekologi. Jurnal Arsitektur, 11(1), 23–32.

Rustam Hakim. (2012). Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap: Prinsip-Prinsip dan Aplikasi Desain. Jakarta: Bumi Aksara.

Sani. (2018). Bentuk dan proporsi pada perwujudan arsitektur vernakular Bugis (Studi Kasus: Bola Soba di Kota Watampone, Sulawesi Selatan). Universitas Diponegoro. http://eprints.undip.ac.id/59777/?utm_source=chatgpt.com

Statistik, B. P. (2021). Statistik lingkungan hidup Indonesia. Jakarta: Badan Pusat Statistik. Harvard Style.

Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.

Sukmadinata, N. S. (2017). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Telles, S., Reddy, K., & Nagendra, H. R. (2019). Pengertian obyek wisata obyek. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.

Walter T. Grondzik., K. A. G. , S. B. , & R. J. S. (2010). Mechanical and Electrical Equipment for Buildings (11th ed.). Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.

Z. E. Ziauddin and Falya Nur raiya. (2023). Analisis Willingness To Pay (WTP) Pengunjung Wisata Hutan Mangrove Kuala Langsa,= J-EBIS (Jurnal Ekon. dan Bisnis Islam., vol. 8, pp. 327–344.

Downloads

Published

2026-04-28

How to Cite

Ilyas, R., Mochdar, D. F., Kerong, F. T. A. ., & Parera, P. V. (2026). Penataan Kawasan Wisata Hutan Mangrove Dengan Pendekatan Arsitektur Vernakuler Di Nangadhero Kabupaten Nagekeo . TEKNOSIAR, 20(1), 44-58. https://doi.org/10.37478/teknosiar.v20i1.8029