Peran Sekolah Kelas II Dalam Pembentukan Struktur Sosial Pada Masa Kolonial
DOI:
https://doi.org/10.37478/sajaratun.v11i2.7445Abstract
Sekolah Kelas II tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai alat rekayasa sosial dan pembentuk struktur sosial kolonial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Sekolah Kelas II dalam pembentukan dan pelestarian struktur sosial pada masa kolonial Hindia Belanda. Sekolah Kelas II merupakan lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah kolonial dan diperuntukkan bagi masyarakat pribumi dari golongan rakyat biasa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan historis, melalui studi pustaka terhadap buku, arsip, dan jurnal ilmiah yang relevan dengan sejarah pendidikan dan struktur sosial kolonial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sekolah Kelas II berfungsi sebagai instrumen kebijakan kolonial untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja tingkat rendah dalam sistem administrasi dan ekonomi kolonial. Kurikulum yang bersifat terbatas dan praktis mengarahkan peserta didik agar memiliki keterampilan dasar, namun tidak memberikan kesempatan yang luas untuk mobilitas sosial. Dengan demikian, Sekolah Kelas II berperan dalam mempertahankan struktur sosial kolonial yang hierarkis dan diskriminatif, di mana masyarakat pribumi tetap berada pada lapisan sosial terbawah. Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa keberadaan Sekolah Kelas II secara tidak langsung membuka akses awal terhadap pendidikan formal bagi masyarakat pribumi. Kemampuan baca tulis yang diperoleh menjadi modal penting bagi tumbuhnya kesadaran sosial dan perubahan masyarakat pada masa selanjutnya. Oleh karena itu, Sekolah Kelas II memiliki peran ganda, yaitu sebagai alat pelanggeng struktur sosial kolonial sekaligus sebagai awal transformasi sosial di kalangan pribumi.
Downloads
Keywords:
Sekolah Kelas II, , Pendidikan Kolonial, Struktur Sosial,References
Anderson, B. (2008). Imagined Communities: Komunitas-Komunitas Terbayang. Yogyakarta: Insist Press.
Furnivall, J. S. (1944). Netherlands India: A Study of Plural Economy. Cambridge: Cambridge University Press.
Furnivall, J. S. (1939). Netherlands India: A Study of Plural Economy. Cambridge University Press.
Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.
Gouda, F. (1995). Dutch Culture Overseas: Colonial Practice in the Netherlands Indies, 1900–1942. Amsterdam University Press.
Kartodirdjo, S. (1987). Pengantar Sejarah Indonesia Baru. Jakarta: Gramedia.
Kartodirdjo, S. (1992). Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia.
Kartodirdjo, Sartono. (1993). Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500–1900. Jakarta: Gramedia.
Nasution, S. (Sejarah Pendidikan Indonesia). 1987. Menyajikan perbandingan rinci antara kurikulum dan tujuan Sekolah Kelas I, Kelas II, dan HIS.
Nasution, S. (1983). Sejarah Pendidikan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Ricklefs, M. C. (A History of Modern Indonesia since c. 1200). Cambridge University Press. Memberikan konteks luas mengenai implementasi Politik Etis dan dampaknya pada pendidikan.
Sjamsuddin, Helius. (2007). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.
Sutherland, H. (1979). “The Priyayi Class.” Indonesia Journal.
Taylor, J. G. (2003). Indonesian Social History: An Introductory Reader. Ohio University Press.
Jurnal Pendidikan dan Sejarah (Misalnya, Jurnal UNY, Jurnal Unesa). Berbagai artikel yang mengkaji kebijakan Dualistisch Onderwijs Stelsel (Sistem Pendidikan Dualistik) dan diskriminasi di dalamnya.
Publikasi Pemerintah Kolonial (Staattsblad/Staatsblad van Nederlandsch-Indië). Dokumen resmi yang menetapkan durasi, mata pelajaran, dan peruntukan Sekolah Kelas II sebagai pendidikan rakyat jelata.


