Jejak “Candi Wareng”: Kajian Ikonologis Yoni 206 dan Indikasi Wanua Agraris “Poros” Wareng-Kawangsan pada Abad ke-10 di Kota Malang

Authors

  • Aditya Nirwana Universitas Ma Chung
  • Rakai Hino Galeswangi Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda`wah

DOI:

https://doi.org/10.37478/sajaratun.v11i1.7961

Abstract

Kajian ini dilakukan untuk mengungkap makna visual yoni 206 di situs makam (semu) Mbah Wareng, Kedungkandang, Malang, yang selama ini minim data historis maupun artefaktual. Penelitian berfokus pada tiga aspek: (1) identifikasi elemen faktual, (2) interpretasi simbol dan alegori, serta (3) pengungkapan makna filosofis dan weltanschauung yang melingkupi artefak tersebut. Pendekatan ikonografi–ikonologi Erwin Panofsky digunakan dalam kerangka penelitian kualitatif–naratif sejarah seni, dengan penekanan pada perbandingan gaya dan telaah literatur arkeologis kawasan Malang Raya. Hasil kajian menunjukkan bahwa yoni 206 memiliki karakter gaya garap yang sebanding dengan temuan abad ke-10, terutama dari situs Srigading dan lingga–yoni periode Mataram Kuno/Medang–Pu Sindok. Hiasan padm?sana dalam relung kantha dipandang sebagai “penyimpangan ikonografis” sekaligus penanda sakral yang mengaitkan yoni ini dengan pemujaan Vishnu–Lakm?/Shri dalam konteks kesuburan, mata air, dan aktivitas pertanian. Temuan ini mengarah pada dugaan keberadaan sebuah kuil kecil, sementara disebut “Candi Wareng”, serta kemungkinan bahwa kawasan Wareng–Kawangsan merupakan wanua agraris dalam jaringan watak Kanuruhan. Kesimpulan kajian ini terletak pada analisis ikonografis mendalam yang dikaitkan dengan rekonstruksi geo-historis. Adapun keterbatasan terutama muncul dari hilangnya pranala, kurangnya konteks stratigrafis, serta ketiadaan sumber tekstual lokal. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memverifikasi hipotesis ini.

Downloads

Download data is not yet available.

Keywords:

Ikonografi, ikonologi, yoni 206, Kampung Wareng

References

Acharya, P. K. (1931). Indian Architecture According to Manasara-Silpasastra (Vol. 1). Oxford University Press. https://archive.org/details/in.ernet.dli.2015.70486

Andaka, J. B. (2023). Kajian terhadap Lingga-Yoni Berbentuk Unik di Jawa (Yoni Bundar Temanggung, Yoni Liyangan, Yoni Gambar, dan Lingga-Yoni Candi Sukuh) sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah. Winaya: Jurnal Pendidikan, 1(1), 16–23.

Arniati, I. A. K. (2007). Dewi Laksmi sebagai Simbol Kesuburan dalam Perspektif Gender. Widya Wretta, 13(1), 8–15.

Brandes, J. L. A. (1913). Oudjavaansche Oorkonden Nagelaten Transcripties Van Wijlen Dr JLA Brandes II. Albrehct & Co.

Budiarto, E., Nurcahyo, G. E., Junawan, Muh., Purbasari, R., Rohyani, S., & Widayanti, W. W. (2021). Dewa Dewi Masa Klasik (Edisi Revisi). Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah.

Cahyono, M. D. (2013). Wanwacarita: Kesejarahan Desa-desa Kuno di Kota Malang (1st ed.). Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang.

Creswell, J. C. (2015). Penelitian Kualitatif & Desain Riset: Memilih di Antara Lima Pendekatan. Pustaka Pelajar.

de Casparis, J. G. (1988). Where was Pu Si??ok’s Capital Situated? In H. I. R. Hinzler (Ed.), Studies in South and Southeast Asian Archaeology: Essays Offered to dr R. Soekmono (pp. 39–52). Kuntji Press.

Denzin, N. K., & Lincoln, Y. S. (2009). Memasuki Bidang Penelitian Kualitatif. In Handbook of Qualitative Reserach (1st ed., pp. 1–26). Pustaka Pelajar.

Easwaran, E. (2017). Vishnu and His 1000 Names. Jaico Publishing House.

Galeswangi, R. H. (2023). Identifikasi Wilayah ’Watak’di Malang Raya Berdasar Sebaran Prasasti Abad IX dan X Masehi. In Epigrafi Sebagai Garda Depan Nusantara (pp. 121–140). Taksaka.

Galeswangi, R. H., Nugroho, W. D., & Wahyudi, D. Y. (2022). Interpretasi Awal Situs Srigading Lawang, Malang. AMERTA: Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Arkeologi, 40(2), 161–178. https://doi.org/https://doi.org/10.55981/amt.2022.40

Galuh, N. S., Indriyanto, & Asmarahman, C. (2020). Tingkat Kerusakan Tegakan Hutan Wareng (Gmelina Arborea) di Hutan Produksi Resor Kandis KPH Gedong Wani. Prosiding Nasional Konservasi 2020, 122–129. http://repository.lppm.unila.ac.id/24219/

Hasan, D., & Trigangga (Eds.). (2019). Prasasti Batu: Pembacaan Ulang dan Alih Aksara (2nd ed.). Museum Nasional Indonesia.

Holt, C. (2000). Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. Arti.line.

Istari, T. M. R. (2003). Arti Simbolis Pahatan Naga di Bawah Cerat Yoni dari Singasari. Berkala Arkeologi, 23(1), 53–61. https://doi.org/https://doi.org/10.30883/jba.v23i1.860

Kirnoprasetyo, I., Muddarisna, N., & Noeriati, D. (2022). Jejak Sejarah Budaya Pertanian Malang Raya (Jejak Rekam di Wilayah Kompleks Percandian) (1st ed.). PT. Literasi Nusantara Abadi Group.

Lutfi, I., & Hudiyanto, R. (2019). Toponim Kota Malang. Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Martiningsih, N. G. A. G. E. (2011). Perempuan Bali dalam Ritual Subak (1st ed.). Universitas Kristen Satya Wacana.

Merton, R. K. (1968). Social Theory and Social Structure (3rd ed.). The Free Press. https://archive.org/details/MertonSocialTheoryAndSocialStructure.

Panofsky, E. (2008). Meaning of The Visual Arts. Anchor Books.

Pattanaik, D. (2003). Indian Mythology: Tales, Symbols, and Rituals from the Heart of the Subcontinent. Inner Traditions International.

Pigeaud, T. G. T. (1960). Java in The 14th Century: A Study in Cultural History—The Nagara-Kartagama by Rakawi Prapanca Of Majapahit, 1365 A.D. (Vol. 2). The Hague: Martinus Nijhoff.

Poerbatjaraka. (1954). Kapustakan Djawi (2nd ed.). Penerbit Djambatan. https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Kapustakan_Djawi.pdf.

Pringle, R. (2004). A Short History of Bali: Indonesia’s Hindu Realm (1st ed.). Allen & Unwin.

Puji, N. D. S. (2014). Yoni Klinterejo Tinjauan Historis dan Ikonografis. Avatara: Jurnal Pendidikan Sejarah, 2(3), 429–439.

Rahadian, S., & Setiawan, H. (2023). Sungai Metro Sebagai Cikal Bakal dari Peradaban Kerajaan Kanjuruhan. Innovative: Journal Of Social Science Research, 3(2), 8883–8895.

Rangkuti, N. (1995). Candi dan Konteksnya: Tinjauan Arkeologi-Ruang. Berkala Arkeologi, Edisi Khusus Manusia Dalam Ruang: Studi Kawasan Dalam Arkeologi, 15(3), 37–42. https://doi.org/https://doi.org/10.30883/jba.v15i3.668.

Rao, T. A. G. (1914). Elements of Hindu Iconography (Vol. 1). Law Printing House. https://archive.org/details/cu31924071128825.

Riyanto, S. (2014). Menggali Peradaban Mataram Kuno di Liangan Tahap demi Tahap. In Liangan: Mozaik Peradaban Mataram Kuno di Lereng Sindoro (1st ed., pp. 31–116). Kepel Press. https://repositori.kemendikdasmen.go.id/1240/

Riyanto, S. (2020). Situs Liyangan dan Sejarahnya: Peradaban Adiluhung di Lereng Gunung (2nd ed.). Balai Arkeologi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. https://repositori.kemendikdasmen.go.id/19360/.

Rusyanti. (2017). Interpretasi Batu Pabeasan di Cibiru Wetan Kabupaten Bandung. PURBAWIDYA: Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Arkeologi, 6(2), 117–130. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.24164/pw.v6i2.232

Sarkar, H. B. (1959). Corpus of The Inscriptions of Java (Vol. 2). Firma K.L. Mukhopadhyay. ark:/13960/t25b7bv1t.

Suhadi, M., & Kartakusuma, R. (1996). Laporan Penelitian Epigrafi di Wilayah Provinsi Jawa Timur. Proyek Penelitian Arkeologi Jakarta, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. https://repositori.kemendikdasmen.go.id/3439/

Supandi, I. N. A. (2023). Bentuk Integrasi Pemujaan Tri Murti di Pura Dalem Taak Desa Batubulan Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar. Jurnal Penelitian Agama Hindu, 7(2), 135–145. https://doi.org/https://doi.org/10.37329/jpah.v7i2.1714

Suwardono. (2018, January 3). Sejarah Desa Bunulrejo Kota Malang Berdasarkan Tinjauan Prasasti Kanuruhan [Magazine]. Majalah Arkeologi Indonesia. Majalah Arkeologi Indonesia. https://hurahura.wordpress.com/2018/01/03/sejarah-desa-bunulrejo-kota-malang-berdasarkan-tinjauan-prasasti-kanuruhan/

Downloads

Published

2026-06-07

How to Cite

Nirwana, A. ., & Galeswangi, R. H. . (2026). Jejak “Candi Wareng”: Kajian Ikonologis Yoni 206 dan Indikasi Wanua Agraris “Poros” Wareng-Kawangsan pada Abad ke-10 di Kota Malang. Sajaratun: Jurnal Sejarah Dan Pembelajaran Sejarah, 11(1), 21 - 39. https://doi.org/10.37478/sajaratun.v11i1.7961