Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Pembelajaran Sejarah: Model, Pendekatan, Dan Penilaian Di SMA
DOI:
https://doi.org/10.37478/sajaratun.v11i1.8119Abstract
Kurikulum Merdeka diperkenalkan untuk mengatasi kelemahan kurikulum sebelumnya yang terlalu berfokus pada materi dan kurang mengembangkan kompetensi siswa secara menyeluruh. Artikel ini membahas penerapan model pembelajaran, pendekatan, dan sistem penilaian dalam pembelajaran sejarah di tingkat SMA. Penelitian menggunakan metode kepustakaan kualitatif menurut Sugiyono (2019) dengan menganalisis berbagai sumber akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka mendorong pembelajaran yang lebih kritis, kontekstual, dan berpusat pada siswa melalui model Project Based Learning (PjBL) dan Inquiry-Based Learning (IBL) serta mengutamakan evaluasi autentik dan formatif. Kesimpulannya, keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran sejarah sangat bergantung pada kesiapan dan sinergi menyeluruh dari ekosistem pendidikan, mulai dari kompetensi pedagogik guru, pemerataan sarana digital, hingga pergeseran budaya sekolah yang tidak lagi berorientasi dogmatis pada nilai angka semata.
Downloads
Keywords:
Implementasi, Kurikulum Merdeka , Pembelajaran Sejarah , Model, Pendekatan, AsesmenReferences
Black, P., & Wiliam, D. (1998). Assessment and classroom learning. Assessment in Education: Principles, Policy & Practice, 5(1), 7–74.
Dewantara, K. H. (1977). Karya Ki Hadjar Dewantara: Bagian pertama pendidikan. Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.
Fajri, S., Ulaini, N., & Susantri, M. (2023). Implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran sejarah. Kaganga: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora, 6(2), 387–397.
Johnson, E. B. (2002). Contextual teaching and learning: What it is and why it's here to stay. Corwin Press.
Kemendikbudristek. (2022). Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam rangka Pemulihan Pembelajaran. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Levstik, L. S., & Barton, K. C. (2011). Doing history: Investigating with children in elementary and middle schools (4th ed.). Routledge.
Mezirow, J. (1991). Transformative dimensions of adult learning. Jossey-Bass.
Popham, W. J. (2008). Transformative assessment. ASCD.
Rahayu, R., Rosita, R., Rahayuningsih, Y. S., Hernawan, A. H., & Prihantini, P. (2022). Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar di Sekolah Penggerak. Jurnal Basicedu, 6(4), 6313–6319.
Shemilt, D. (1987). Adolescent ideas about evidence and methodology in history. In C. Portal (Ed.), The history curriculum for teachers (pp. 39–61). Falmer Press.
Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Thomas, J. W. (2000). A review of research on project-based learning. Autodesk Foundation.
Tomlinson, C. A. (2014). The differentiated classroom: Responding to the needs of all learners (2nd ed.). ASCD.
Van Sledright, B. A. (2002). In search of America's past: Learning to read history in elementary school. Teachers College Press.
Wiggins, G. (1990). The case for authentic assessment. Practical Assessment, Research, and Evaluation, 2(2), 1–3.
Wineburg, S. (2001). Historical thinking and other unnatural acts: Charting the future of teaching the past. Temple University Press.


