Persepsi Masyarakat Terhadap Tradisi Ngamuan Gunung Perak Dalam Upacara Pernikahan Adat Suku Dayak Ma'anyan Di Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan

Authors

  • Anai Anai Universitas Lambung Mangkurat
  • Wisnu Subroto Universitas Lambung Mangkurat
  • Dewicca Fatma Nadilla Universitas Lambung Mangkurat

DOI:

https://doi.org/10.37478/sajaratun.v11i1.8318

Abstract

Penelitian ini mengkaji persepsi masyarakat terhadap tradisi Ngamuan Gunung Perak dalam upacara pernikahan adat suku Dayak Ma’anyan di Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Gunung Perak merupakan elemen ritual paling signifikan dalam pernikahan adat Dayak Ma’anyan, berbentuk menyerupai pohon kehidupan yang dihiasi uang kertas, koin, dan ornamen berwarna emas, putih, dan perak, serta melambangkan rasa syukur, penggenapan sumpah (Antuhan), dan doa bagi kemakmuran serta keharmonisan pengantin baru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologis untuk memahami bagaimana masyarakat mengalami dan mengaitkan makna dengan tradisi tersebut. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan kunci, yaitu mantan pemimpin adat (Mantir Adat), anggota kelompok tari tradisional, dan pasangan yang telah menjalani upacara Gunung Perak, didukung observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahap reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan, dengan triangulasi sumber untuk menjaga validitas temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gunung Perak menempati kedudukan sebagai puncak hukum pernikahan adat, baik dari struktur fisik dan makna simbolisnya maupun dari peran sentral Wadian dan Mantir Adat dalam menjaga keasliannya. Penelitian ini juga mengungkap perbedaan persepsi antargenerasi: generasi tua memandangnya sebagai kewajiban sakral, sementara generasi muda lebih memaknainya sebagai simbol identitas budaya. Tradisi ini turut menghadapi ancaman dari pengaruh budaya luar, ketegangan afiliasi keagamaan, dan migrasi penduduk muda ke perkotaan, yang direspons masyarakat melalui strategi pelestarian seperti festival budaya, pendidikan, dan digitalisasi pengetahuan adat. Penelitian ini menegaskan bahwa tradisi Ngamuan Gunung Perak tetap dihormati lintas generasi sebagai representasi penting identitas budaya Dayak Ma’anyan yang diwariskan secara berkelanjutan dari generasi ke generasi.

Downloads

Download data is not yet available.

Keywords:

Persepsi masyarakat, Makna Simbolik , Ngamuan Gunung Perak , Pernikahan adat , Dayak Ma’anyan

References

Asrori. (2020). Psikologi pendidikan pendekatan multidisipliner. CV Pena Perada.

Dahri, H. (2009). Wali dan keramat. Riora Cipta.

Dismas Kwirinus. (2022). Proses perkawinan adat suku Dayak Desa di Sekadau Kalimantan Barat [Penelitian yang tidak dipublikasikan].

Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. Basic Books.

Irawati, E. (2014). Makna simbolik pertunjukan Kelentang dalam upacara Belian Setiu suku Dayak Benuaq Desa Tanjung Isuy Kutai Barat Kalimantan Timur. Jurnal Kajian Seni, 1(1), 60–73.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi. PT Rineka Cipta.

Mardimin, J. (1994). Jangan tangisi tradisi. Kanisius.

Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1992). Analisis data kualitatif: Buku sumber tentang metode-metode baru (Tjetjep Rohendi Rohidi, Penerj.). Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).

Mubah, A. S. (2011). Strategi meningkatkan daya tahan budaya lokal dalam menghadapi arus globalisasi. Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, 24(4), 302–308. http://journal.unair.ac.id/MKP@strategi-meningkatkan-daya-tahan-budaya-lokal-dalam-menghadapi-arus-globalisasi-article-4089-media-15-category-8.html

Sintani, S. (2018). Perkawinan adat Dayak Ma'anyan sebagai ujud pendidikan masyarakat. An1mage: Jurnal Studi Kultural, 3(1), 51–56. https://www.neliti.com/publications/223845/perkawinan-adat-dayak-ma-anyan-sebagai-ujud-pendidikan-masyarakat

Sinuhaji, M. (2013). Pelestarian adat dalam upacara perkawinan masyarakat Batak Karo sebagai atraksi wisata dalam menunjang kepariwisataan di Kabupaten Daerah Tingkat II Karo. Jurnal Geografi, 5(2), 113–122. https://doi.org/10.24114/jg.v5i2.8152

Smith, L., & Akagawa, N. (Eds.). (2009). Intangible heritage. Routledge.

Soekanto, S. (1990). Sosiologi: Suatu pengantar. Rajawali Pers.

Sriyana & Hiskiya. (2020). Makna simbolik perkawinan adat Dayak Ngaju di Kota Palangka Raya. Anterior Jurnal, 20(1), 1–10.

Sugiyono. (2020). Metode penelitian kualitatif. Alfabeta.

Sztompka, P. (2007). Sosiologi perubahan sosial. Prenada.

Thoha, M. (2014). Perilaku organisasi: Konsep dasar dan aplikasinya. Rajagrafindo Persada.

Walgito, B. (2010). Pengantar psikologi umum. Andi Offset.

Downloads

Published

2026-06-25

How to Cite

Anai, A., Subroto, W., & Nadilla, D. F. . (2026). Persepsi Masyarakat Terhadap Tradisi Ngamuan Gunung Perak Dalam Upacara Pernikahan Adat Suku Dayak Ma’anyan Di Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan. Sajaratun: Jurnal Sejarah Dan Pembelajaran Sejarah, 11(1), 166 - 177. https://doi.org/10.37478/sajaratun.v11i1.8318